logo

Paroki St. Hilarius - Klepu

klepu

Jl. Genengan 03 RT 01/RW 01,Dkh. Jogorejo

Ds. Klepu,Kec. Sooko,Kab. Ponorogo,63482

:hila[email protected]

: (0351) 7347040

: @parokisantohilarius

: paroki hilarius klepu

: parokisantohilarius

: ---

Sejarah

Pada tahun 1964, Paroki St. Cornelius Madiun akan merayakan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1964 yang ke-19. Para Romo merasa bahwa peringatan tersebut kurang meriah kalau hanya diisi oleh pentas kesenian yang ada di Kota Madiun saja. Romo teringat bahwa di Madiun ada murid, yang menjadi koster paroki. Namanya Sugiyoto. Ia berasal dari Desa Klepu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo. Selama di Madiun, anak ini dikenal mempunyai talenta dalam bidang kesenian, baik tari Reog maupun dalang. Lalu, Sugiyoto diundang dalam pertemuan para Romo. Ia ditanya mengenai kesenian yang berasal dari Desa Klepu dan kemungkinan dapat dipentaskan di Madiun untuk memeriahkan peringatan hari lahirnya Pancasila.

...

Sugiyoto menawarkan kesenian Reog Dadak, yang telah sekian lama dihidupi dan berkembang di Klepu. Para Romo menyetujui pentas Reog ini diadakan. Sugiyoto diminta mengundang paguyuban Reog yang ada di Klepu. Rupanya, ada 2 paguyuban Reog Dadak. Sebuah paguyuban berada di Dukuh Jogorejo. Tepatnya di rumah Bapak Rusnu. Satu paguyuban lagi berada di Dukuh Klepu. Tepatnya di rumah Bapak Kasdi. Nama paguyuban Reog itu adalah Singo Tirto dan Singo Kusuma. Ketua Paguyuban Reog Singo Kusuma adalah Bapak Kasiran.

Pada waktu itu, Kepala Desa Klepu adalah Bapak Soemakun. Sementara itu, Sugiyoto adalah keponakan Bapak Soemakun. Setelah desa mengadakan musyawarah, maka paguyuban Reog Singo Kusumo ini, akhirnya mereka menanggapi tawaran para Romo di Madiun melalui Sugiyoto. Akhirnya, paguyuban Reog ini berangkat ke Madiun. Mereka berjalan kaki dari Desa Klepu sampai di Desa Sombro. Maklumlah pada waktu itu, jalan belum dapat dilewati kendaraan roda empat. Para pamong dan tokoh masyarakat Desa Klepu turut mengikuti rombongan ke Madiun. Di antara mereka adalah Bapak Soemakun (Kepala Desa), Bapak Soemarto (Jogoboyo) dan Selam, Pethil, Gliseng, Misdi, Sunaryo, Tunik, Timin, Sirun, Kasiran, Atim (yang kesemuanya adalah tokoh masyarakat). Sesampainya di Desa Sombro, rombongan dihentikan oleh 3 orang tokoh PKI Sombro. Mereka meminta agar Reog diberi tanda BRP. Kalau tidak mau maka rombongan tidak diperkenankan untuk masuk ke Madiun. Bapak Soemakun mengatakan bahwa tidak perlu ada tulisan BRP atau atribut lain, karena di kepala Reog sudah ada tulisan Reog Desa Klepu, Kecamatan Sooko. Seandainya terjadi sesuatu, maka Kepala Desa Klepu berani untuk bertanggung jawab. Saat itu terjadi ketegangan di antara mereka dan akhirnya terhenti setelah truk penjemput dari Madiun datang. Tanpa kata apapun, rombongan naik ke atas truk dan berangkat.

Ketika giliran Reog mendapat kesempatan pentas, antusiasme masyarakat sangat terlihat. Sambutan kemeriahan dalam rupa tepuk-tangan dan teriakan menunjukkan hal tersebut. Tentunya, ini juga menjadi semangat tersendiri bagi para pemain Reog. Dengan semangat dan ketrampilan yang dimiliki, mereka mampu menghibur masyarakat. Pentas berlangsung meriah dan luar biasa, hingga di akhir acara itu, masyarakat masih memberi sambutan dengan sopan, akrab dan santun. Sikap inilah yang selalu diingat oleh rombongan Reog dari Desa Klepu.

Sebenarnya pada waktu itu tumbuh perasaan tanda-tanya dan penasaran yang muncul dalam hati para pemain Reog. Hal ini disebabkan oleh apa yang mereka saksikan waktu itu. Selama peringatan mereka menemui barisan karnaval dari orang Katolik dan para Biarawan/Biarawati Paroki St. Cornelius Madiun. Mereka heran melihat barisan orang-orang yang mengenakan pakaian serba putih. Orang apakah mereka ini? Ada yang mengatakan orang Mutihan, karena pakaiannya serba putih. Ada yang mengatakan orang Muslimin dan juga orang Bombai. Karena kebanyakan orang yang mengenakan pakaian putih itu adalah orang Belanda dan Cina, maka disebut Londo dan Cino. Maklumlah pada saat itu rombongan Reog belum mengenal sama sekali agama Katolik.

Peristiwa tahun 1965 merupakan momentum yang tidak pernah terlupakan oleh masyarakat Desa Klepu. Pada waktu itu pecah peristiwa G 30 S PKI. Suasana begitu mencekam dan gawat. Pembunuhan terjadi di mana-mana. Oleh karena itu, warga masyarakat Desa Klepu mengadakan penjagaan esktra ketat untuk mengamankan Desa. Di setiap RT dan Dukuh diwajibkan membuat pos-pos penjagaan. Setiap Gerdu/Cakruk yang ada harus ada orang yang bertanggung jawab. Pusat penjagaan pada waktu itu di rumah Bapak Supandi/Parto Sentika (Lurah Dongkol, ayah Soemakun).

Orang-orang yang berjaga di setiap pos cukup banyak. Setiap malam mereka berkumpul dan membawa alat penjaga keamanan seadanya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang ikut rombongan Reog ke Madiun. Orang mulai membicarakan peristiwa geger G 30 S PKI secara apa adanya, tanpa basa-basi. Mengapa orang saling membunuh, tidak peduli apa itu saudara atau bukan, seagama atau bukan? Bagaimana dengan nasib kita? Kita ini mengaku beragama Islam, KTP juga Islam, tetapi kita tidak pernah melaksanakan ajaran agama Islam. Bagaimana kalau nasib kita seperti mereka yang terbunuh, karena tidak bisa merapalkan syahadat? Pembicaraan bergulir menjadi soal agama. Mereka teringat akan kesan baik dan cara penyambutan rombongan Reog yang bersahabat dari orang “Katolik” Madiun. Dalam batin mereka tertanam pemahaman bahwa orang “Katolik” Madiun itu baik-baik, sopan, tentram, damai, rukun dan bersatu. Tidak ada watak keras yang terlintas di wajah mereka. Yang tampak hanya kelembutan dan penuh kasih. Orang-orang yang berkumpul di Rumah Bapak Supandi/Parto Sentiko bertanya kepada Bapak Soemakun mengenai agama orang Madiun itu. Bapak Soemakun menjawab bahwa berdasar kesaksian Sugiyoto, orang-orang Madiun itu beragama Katolik. Pembicaraan berlanjut. “Kalau demikian, apakah kita boleh pindah agama?”, tanya orang-orang. Bapak Soemakun menjawab bahwa orang boleh pindah agama atas kehendak sendiri, menurut hati nurani dan tanpa paksaan dari orang lain. Itu hak dan tidak ada yang melarang. Bapak Soemakun balik bertanya, “Apakah kalian ingin menjadi Katolik seperti mereka?” Tanpa disangka ternyata orang-orang yang ada di tempat itu secara serempak menjawab ya, Pak!

Kesan kerukunan, keramahan dan kelembutan hati orang Katolik Madiun itu telah membekas sedemikian dalam di hati masyarakat Klepu. Mereka punya harapan bahwa di Klepu dapat tercipta kerukunan dan kedamaian seperti yang terjadi pada orang Katolik Madiun. Bapak Soemakun tidak bisa langsung menanggapi niat masyarakat saat itu. Ia hanya menjanjikan bahwa akan menanyakan semua itu pada Sugiyoto, keponakannya kalau nanti pulang dari Madiun. Ketika Sugiyoto pulang dari Madiun, Bapak Soemakun menyambutnya dengan pertanyaan: Apakah orang Klepu boleh masuk menjadi Katolik? Secara spontan, Sugiyoto menjawab boleh asalkan ada 25 orang. Ia akan berusaha meminta pelajaran menjadi Katolik dari para Romo di Madiun. Seketika yang hadir di situ menyanggupi. Di antara mereka adalah Bapak Soemakun, Supandi, Pirnadi, Sunaryo, Misdi, Selam, Sarnu, Sarikun dan Tunik (yang akhirnya kembali ke Islam). Sisa kekurangannya mereka akan melengkapi. Hingga akhirnya terkumpul lebih dari 25 orang.

Sugiyoto segera kembali ke Madiun dan menyampaikan niat warga Klepu kepada Romo di Madiun. Sekitar tahun 1967, Rm. Sebastiano Fornasari, CM datang ke Desa Klepu untuk menemui Bapak Soemakun. Mereka bersama-sama menentukan jadwal pelajaran agama. Akhirnya, Hari Minggu dipakai sebagai hari pelajaran. Sesudah itu, Romo di Madiun mengirim seorang katekis, Bapak Sukardi untuk memberikan pengajaran di Klepu. Rumah Bapak Parto Sentiko dijadikan sebagai tempat pengajaran. Pelajaran berjalan dengan baik dan semangat, bahkan dalam setiap pertemuan jumlah simpatisan semakin banyak. Karena semakin banyak maka aktivitas ibadah cara Katolik mulai dikenalkan. Tempat ibadahnya waktu itu terletak di Dalangan, Desa Sombro. Jaraknya 3 Km, sebelah utara Desa Klepu. Daerah ini dipilih dengan harapan, supaya pengajaran bisa mencakup seluruh Kecamatan Sooko. Pada tanggal 8 Desember 1968, di Dalangan terjadi Baptisan massal. Kebanyakan umat yang dibaptis dari Desa Klepu. Jumlahnya ada 853 orang. Karena itu, mereka menyewa rumah Bapak Soeran untuk dijadikan kapel sementara. Seluruh aktivitas peribadatan dan pengajaran umat dilaksanakan di tempat ini. Tiap Minggu umat dari Desa Klepu berbondong-bondong ke Dalangan untuk mengikuti Ibadah. Tiap keluarga membawa tikar untuk alas duduk mereka. Sejak saat itu, umat di Desa Klepu diberi Katekis. Meskipun setiap saat mengalami mutasi tetapi toh tetap disediakan. Beberapa katekis yang pernah bertugas di Desa Klepu adalah Bapak Sukardi, Mario Alimin, Karmin berpasangan dengan JE. Sugiyanto, Alb. Samingan berpasangan dengan Agus Jatmiko. Selain katekis, pelayanan pastoral dari imam juga secara rutin diberikan. Beberapa imam yang pernah terlibat dalam pengembangan umat Klepu adalah Rm. Tandya Sukmono, CM, Rm. Sebantiano Fornasari, CM, Rm. Silvano Ponticelli, CM, Rm. Valentino Bosio, CM dan romo di Ponorogo sesudah menjadi Paroki.

Perjalanan dari Klepu ke Dalangan pasti melewati Desa Bedoho. Di Bedoho ini umat sering kali dicaci maki dan dicibir. Masyarakat Bedoho mengatakan bahwa umat Katolik itu orang kafir, kalau mati nanti jadi celeng, dipentheng. Orang Katolik itu menyembah patung dan sejenisnya. Orang Katolik itu suka nyadran ora uwis-uwis (kenduri di tempat keramat dan makam tidak selesai-selesai). Umat tetap diam menyikapi hal ini. Mereka tetap setia dengan hidup peribadatan mereka. Bahkan umat di Klepu terus berkembang. Melihat perkembangan yang terjadi ini akhirnya Romo di Madiun membeli rumah Bapak Gandul dari Bedoho untuk dijadikan kapel. Rumahnya berbentuk sinom. Pada tahun 1969, rumah didirikan di Desa Klepu untuk tempat ibadah umat. Awal tahun 1970, rumah ibadah yang sudah ada dibangun menjadi Gereja dengan ukuran cukup besar, yaitu 20 X 25 m. Bentuknya tetap sinom karena disesuaikan dengan rumah adat di Klepu. Pembangunan gedung gereja di atas tanah wakaf Bapak Soemakun mulai dilakukan. Pendampingan dan pelayanan umat tentu tidak hanya berhenti di situ. Oleh karena itu, sejak tahun 1972 ditempatkan petugas pastoral atau katekis khusus untuk melayani Wilayah Klepu dan sekitarnya. Salah seorang katekis yang tinggal di Klepu adalah Bapak JE. Soegiyanto, BA hingga pensiun tahun 1998.

Stasi Klepu berlindung di dalam nama Sakramen Mahasuci. Gedung Gereja Sakramen Mahakudus terletak di lingkungan Genengan. Stasi Klepu terbagi menjadi 11 lingkungan, yaitu Lingkungan Klepu, Pondok, Sulingan, Wareng, Mendung, Tanjung, Ngapak, Genengan, Sambi Barat, Sambi Timur, Bendo. Jarak masing-masing lingkungan dengan gereja sebagai pusat kegiatan umat rata-rata sekitar 0,5 km hingga 6 km. Sejak tahun 1990 dibentuklah Dewan Gereja Klepu. Dewan Gereja ini dipercaya untuk mengelola pendampingan umat dan penanganan beberapa urusan administratif yang terkait dengan kehidupan Stasi. Ketua dewan saat itu adalah Bapak K. Pirnadi. Pada tahun 1993 - 1997, Bapak Edy Sudarman dipercaya mengantikan Bapak K. Pirnadi. Tahun 1997, istilah Dewan Gereja diganti menjadi Dewan Stasi. Periode tahun 1997 - 2000, jabatan ketua dipegang oleh Bapak Gimin. Periode tahun 2000- 2007, jabatan dipegang oleh Bapak Petrus Sutarno. Sesudah itu, kepengurusan Dewan Stasi dipegang oleh kelompok “muda” dengan Bapak FX. Adi Suwito menjadi ketuannya (Makalah Paroki).

Dalam peran yang luar biasa para katekis dan imam saling membantu dan membangi kring (lingkungan)

  1. Stasi sendang
  2. Stasi jurug
  3. Lingkungan klepu
  4. Lingkungan Sambi timur
  5. Lingkungan Sambi barat
  6. Lingkungan Bendo
  7. Lingkungan Wareng
  8. Lingkungan kuniran
  9. Lingkungan mendhung 
  10. Lingkungan Sulingan 
  11. Lingkungan Tanjung
  • Lingkungan Ngapak
  • Lingkungan genengan

Dalam peran besar Rm. Silavano Ponticelli, CM merupakan imam yang berperan besar dalam Gereja klepu seperti memperhatikan umat klepu dengan membangun Rumah sehat bagi umat klepu yang di ketuai oleh Rm Silavano Ponticelli, CM dan pembantu mengurus Rumah Kesehatan yakni Alm bu Budas, serta dalam peran melihat perkembangan anak-anak dalam pendidikan maka Rm. Silavano Ponticelli, CM mendirikan TK Pancasila untuk jenjang kedepan. Seiring berjalananya waktu Gereja klepu menjadi paroki pada Tahun 2012 dan berdirinya Skramen Mahakudus Tahun 2000, dengan semangat Rm Skolatikus Agus Wibowo Pr dan Rm. Matius Slamet Pr,yang membawa umat menjadi paroki Hilarius Klepu karena menurut Rm Skolatikus Agus Wibowo Pr, umatsudah cukup dan mampu sehingga menjadi dasar atas kekuatan bersama umat peran Rm. Skolatikus Agus Wibowo yang menonjol adalah

  • Penanaman besar organic
  • Pembuat batu akik
  • Menyekolahkan umat yang kurang mampu
  • Membangun fasilitas rakyat

Serta di sebuah tebing pada sebuah ketinggian perbukitan masih di desa Klepu, dibangun pula Goa Maria Fatima Sendang Waluyojatiningsih. Berdiri sebuah patung menggambarkan Maria warna putih pada sebuah ketinggian di atas sendang (kolam bermata-air). Tempat ini, untuk melakukan simbolisasi perziarahan.Setelah itu, gerak Katolik yang terang-terangan didukung Kepala Desa ini, semakin agresif menebar pengaruh dan missi cinta kasih Allah membuat umat semakin guyub rukun. Cikal bakal Katolik di desa ini, cepat tumbuh berkembang. Bahkan, dalam dua kali jabatan Kepala Desa penerus Soemakoen-Kuswandi dan Agung, juga dari kalangan katolik menjadikan gerak missi katolik semakinberkembang, termasuk pembangunan rumah kepasturan di atas lahan yang dulu tempat bapak Puji sukartono . Desa Klepu dengan jumlah penduduk 2.896 jiwa dalam 800 Kepala Keluarga (KK). Sejumlah 1,054 jiwa memeluk Katolik. 

Profil

algons-1

Gereja St. Hilarius Klepu

algons-2

Goa Maria - St. Hilarius Klepu

algons-3

Balai Paroki - St. Hilarius Klepu

Jadwal Misa - Paroki

MISA WAKTU
Senin-Kamis & Sabtu (harian) 05.30
Jumat 18.00
Sabtu 18.00
Minggu 07.00