Pelayanan iman penuh sukacita yang dijalani dalam rasa syukur (Mrk 1, 29-31)

 

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita tidak mendengar kisah singkat dan menyentuh mengenai penyembuhan ibu mertua Simon – yang belum dipanggil Petrus – dalam versi Injil Markus. Episode singkat itu dikisahkan oleh dua Injil Sinoptik dengan aneka versinya namun tetap menggugah. “Mertua Simon terbaring karena sakit demam”, tulis Markus. Kita tidak tahu kalau sakit demam itu gejala sedang, namun ketika usia lanjut, demam biasa itu dapat berbahaya. Ketika seseorang sudah berusia lanjut, orang tidak lagi mampu mengontrol tubuhnya. Orang harus belajar untuk memilih mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Kekuatan tubuh itu menurun dan lari dari kita, meskipun hati kita mendambakan tubuh yang kuat. Maka dari itu, orang harus belajar memurnikan keinginannya: menjadi sabar, memilih apa yang diinginkan tubuh dan hidup. Ketika kita sudah berusia lanjut, kita tidak dapat melakukan hal yang sama seperti kita masih muda: tubuh itu memiliki masanya, dan kita harus mendengarkan tubuh kita dan menerima batas-batasnya. Kita semua mengalaminya. Saya sekarang juga harus menggunakan tongkat untuk berjalan.

Beratnya sakit pada usia lanjut itu berbeda,  tidak dapat dibandingkan ketika orang itu masih ruma atau remaja. Sakit itu dirasakan seperti angin keras yang sudah menimpa pada masa sulit. Di dalam usia lanjut, sakit itu tampaknya mempercepat kematian dan dalam banyak kasus, mengurangi masa hidup kita yang sudah kita anggap singkat. Keraguan mengintai bahwa kita tidak akan pulih, bahwa “sakit ini akan menjadi akhir hidupku…” dan selanjutnya: pikiran seperti ini muncul. Orang tidak dapat memimpikan harapan masa depan yang sudah tidak nampak lagi. Seorang penulis terkenan yang bernama Calvino menulis bahwa orangtua  lebih menderita kehilangan banyak hal dari masa lalunya daripada menikmati hidup yang akan datang. Namun kisah Injil yang kita dengarkan ini menolong kita untuk berhadap dan memberi kita pelajaran pertama: Yesus tidak mengunjungi orangtua yang sakit sendirian: Ia mengunjunginya bersama dengan para murid. Pernyataan ini membuat kita sedikit berpikir.

Tepatnya, komunitas kristianilah yang harus merawat orangtua: kerabat dan sahabat, tetapi komunitas. Mengunjungi orangtua harus dilakukan oleh banyak orang, bersama-sama dan sering. Kita tidak seharusnya melupakan tiga baris kalimat Injil,  terutama sekarang di mana jumlah orangtua bertumbuh secara signifikan, juga dalam relasi dengan orang muda, karena kita berada dalam situasi musim dingin demografi, kita mempunyai lebih sedikit anak, dan ada banyak orangtua dan sedikit orang muda. Kita harus bertanggung jawab untuk mengunjungi orangtua yang sering sendirian, dan menghadirkan mereka dalam doa-doa kita di hadapan Allah. Yesus sendiri akan mengajar kita bagaimana mengasihi mereka. “Sebuah masyarakat sungguh menyambut kehidupan ketika masyarakat mengakui bahwa usia lajut,  orang difabel, orang sakit dan walaupun dalam situasi kematian itu berharga” (Pesan Paus kepada Akademi Kepausan untuk Kehidupan, 19 Februari 2014).

Hidup itu selalu indah. Ketika Yesus menjenguk wanita lanjut usia yang sakit, ia memegang tangannya dan menyembuhkannya: tindakan yang sama yang Yesus tunjukan ketika membangkitkan perempuan muda yang telah meninggal. Dia memegang tangannya, membantunya berdiri, dan menyembuhkannya, membuatnya mampu berdiri. Dengan tindakan kasih yang lembut ini, Yesus memberikan pelajaran pertama kepada para murid-Nya, dapat disebut, keselamatan dinyatakan, atau dengan lebih baik, diwartakan melalui kepedulian terhadap orang sakit; dan iman wanita itu bersinar dalam rasa syukur atas kelembutan Allah yang dirasakankannya. Saya mau kembali ke pokok yang saya ulangi dalam katekese ini: budaya membuang nampaknya cenderung menghapus orangtua. Benar, tidak membunuh mereka, tetapi menghapus mereka secara sosial, seakan-akan mereka adalah beban yang harus ditanggung; lebih baik untuk meguncinya. Inilah pengingkaran kemanusiaan kita. Perlakuan seperti ini sangat buruk. Perlakukan seperti ini menyeleksi hidup menurut kegunaannya, menutur kemudaannya, dan tidak sebagaimana adanya hidup itu, tidak dengan kebijaksaan orang tua, tidak dengan batas-batas orangtua. Orangtua itu memberi banyak hal kepada kita: yaitu kebijaksanaan hidup. Mereka banyak mendidik kita. Inilah mengenapa kita juga harus mendidik anak-anak kita untuk merawat kakek-nenek mereka dan mengunjungi mereka. Dialog antara orang muda dan kakek-nenek, anak-anak dengan kakek-nenek itu penting dalam hidup bermasyarakat. Itu penting bagi gereja, itu penting bagi kesehatan hidup. Di mana tidak ada dialog antara orang muda dan orangtua, ada sesuatu yang hilang dan generasi tumbuh tanpa masa lalu, tanpa akar.

Jika pelajaran pertama diberikan oleh Yesus, pelajaran kedua diberikan oleh wanita lanjut usia itu, yang bangkit dan “melayani mereka”. Bahkan pada usia lanjut, orang harus melayani komunitas. Baik bagi orangtua untuk terus memupuk tanggunggu jawab untuk melayani, menyingkirkan godaan. Tuhan tidak menolak mereka. Sebaliknya, Tuhan membaharui kekuatan mereka untuk melayani. Dan saya ingin mencatat bahwa tidak ada penekanan istimewa dalam kisah para penginjil: hal itu adalah hal yang wajar. Dan para murid akan mempelajarinya secara penuh di sepanjang proses pembinaan mereka di sekolah Yesus.  Orangtua yang mau mengalami kesembuhan, penghiburan, berdoa bagi saudara-saudarinya – baik itu murid, kepala tentara, orang yang diganggu roh jahat, mereka yang tertolak – dapat menjadi saksi agung mengenai kemurnian dan rasa syukur yang menyertai iman. Jika orangtua, sebagai alih-alih ditolak dan disingkirkan dari kisah kejadian yang menandai kehidupan komunitas, namun diletakkan di pusat perhatian bersama, mereka akan terdorong untuk mengerjakan pelayanan syukur yang bernilai di hadapan Allah, yang tidak pernah melupakan seorangpun. Rasa syukur orangtua atas rahmat-rahmat yang diterima oleh Allah selama hidup mereka, sebagaimana ibu mertua Petrus mengajar kita, membangkitkan kembali sukacita bersama dalam komunitas, dan menyampaikan wajah dasar dari tujuan hidup manusia dalam iman para murid.

Namun kita harus belajar dengan baik bahwa roh doa dan pelayanan,  yang Yesus pesankan kepada semua murid-Nya itu tidak hanya urusan wanita. Tidak ada satu bukti yang menunjukkan bahwa Yesus membatasi kata-kata dan tindakannya. Pelayanan syukur injili atas kelembutan Allah tidak hanya ditulis menurut bahasa pria yang adalah tuan dan wanita adalah pelayan. Namun hal ini tidak mengurangi kenyataan bahwa wanita dapat mengajari pria hal-hal yang menurut mereka lebih sulit untuk dipahami, yaitu rasa syukur dan kelembutan iman. Sebelum para murid memahami pelajaran ini sepanjang perjalanan mereka mengikuti Yesus, ibu mertua Petrus telah menunjukkan caranya. Dan sikap lembut Yesus, yang memegang tangan dan dengan lembut meletakkan tangan atasnya, dengan jelas menunjukkan, dari sejak awal, kepekaan istimewaNya terhadap yang lemah dan yang sakit, karena Anak Allah pastinya telah belajar dari Ibu-Nya. Marilah kita memastikan bahwa orangtua, kakek-nenek, dekat dengan anak-anak, orang muda dan menyampaikan memori hidupnya, menyampaikan pengalaman hidupnya, kebijaksanaan hidupnya. Sejauh mana kita menjamin bahwa yang muda dan yang tua terhubung, sejauh itu akan ada lebih banyak harapan bagi masa depan masyarakat kita.

 

(Lapangan Santo Petrus, Rabu, 15 Juni 2022)